TIDUR SEKAMAR ATAU PISAH, YA?

Benarkah membiasakan anak tidur sendiri sejak bayi akan melatih kemandiriannya? Seperti apa pula kamar yang pas untuk bayi

Berbeda dengan bayi-bayi di negara Barat yang sejak lahir sudah tidur terpisah dari orang tuanya, maka bayi-bayi kita umumnya masih tidur sekamar dan bahkan ada yang seranjang dengan orang tua. Soalnya, mayoritas orang kita merasa enggak tega kalau bayi yang masih kecil-mungil dan tak berdaya itu harus tidur terpisah. Takutnya, kalau nanti ada apa-apa di tengah malam sementara orang tua sudah lelap tidur dan tak mendengarnya. Misalnya, si kecil terbangun dan menangis. Kalau tidur sekamar, apalagi seranjang, kan, mudah sekali ketahuan. Tapi kalau kamarnya terpisah, aduh, enggak janji, deh!

Di sisi lain, membiasakan bayi tidur sendiri sejak lahir, katanya, bisa melatih kemandirian si kecil kelak. Sebaliknya kalau bayi tidur sekamar dengan orang tua, nantinya jadi manja dan kurang mandiri. Belum lagi nanti orang tua harus direpotkan untuk melatih si kecil tidur sendiri. Dari pengalaman banyak orang tua, ternyata enggak gampang, lo, membiasakan anak tidur sendiri. Jadi, bagaimana, dong, sebaiknya?

RASA AMAN

Menurut Dra. Mayke S. Tedjasaputra, bayi tidur sekamar atau terpisah dari orang tua memiliki plus-minusnya tersendiri. “Paling ideal memang bayi tidur di kamar sendiri,” ujarnya. Tapi itu pun masih ada syaratnya, yaitu kamar bayi harus memiliki pintu penghubung dengan kamar orang tuanya. Sehingga kalau ia terbangun di tengah malam, orang tua bisa cepat menanganinya. “Tapi masalahnya, kan, untuk mencapai yang ideal itu agak sulit,” lanjut psikolog anak dari Lembaga Psikologi Terapan UI ini.

Jadi, katanya, “tak apa-apa bayi tidur sekamar dengan orang tua.” Keuntungannya ialah orang tua bisa cepat memberi respon ketika bayi menangis bahkan di tengah malam sekalipun. Dengan begitu, bayi pun merasa aman. Seperti kita tahu, rasa aman perlu dipupuk selama satu tahun pertama agar si bayi nantinya menjadi anak yang percaya diri atau tak punya pandangan negatif mengenai lingkungan sekitarnya.

Namun demikian tak lantas berarti bayi yang tidur terpisah akan kekurangan atau tak punya rasa aman. “Asalkan sebelum tidur orang ua tetap menyempatkan kontak komunikasi dengan bayi,” kata Mayke. Misalnya, si bayi dininabobokan dulu, ditepuk-tepuk pantatnya sampai ia tertidur. Kemudian orang tua mengatakan kepadanya bahwa ibu/ayah baru akan pergi setelah ia tertidur. “Dengan begitu akan membuat rasa aman pada bayi.”

HATI-HATI HUBUNGAN INTIM

Yang perlu diperhatikan, kata Mayke, khususnya bila bayi tidur sekamar dengan orang tua, jangan sampai si bayi melihat orang tuanya berhubungan intim. “Terlebih bila si bayi sudah semakin besar atau berusia 8 bulan ke atas, sebaiknya hubungan intim tak dilakukan di kamar yang sama dengan bayi.” Soalnya, bisa berdampak negatif untuk perkembangan si bayi. Mungkin si bayi akan berpikir ibunya diperlakukan kasar atau diserang oleh ayahnya. “Kalau bayi sudah lebih besar lagi dampaknya akan semakin buruk,” tambah Mayke. Jadi, jangan anggap enteng mentang-mentang si kecil masih bayi. Kendati demikian, bukan berarti setelah 8 bulan maka bayi harus tidur terpisah dari orang tua. “Idealnya, sih, memang dipisah. Tapi untuk di Indonesia, hal ini jarang dilakukan, karena bangsa kita memiliki pola pengasuhan yang khas,” bilang Mayke. Jadi, asal orang tua bisa mengatur hubungan intimnya tak terlihat oleh bayi, “saya rasa tak akan ada masalah,” tandasnya.

Bahkan, sampai umur 2 atau 3 tahun pun, tak apa-apa anak masih tidur sekamar dengan orang tua. Karena di usia tersebut anak masih memiliki kecemasan berpisah dengan orang tua. “Bila mereka berada satu kamar maka perasaan mereka akan menjadi nyaman dan aman. Terutama bila anak terbangun di tengah malam, misalnya mengalami mimpi buruk, orang tua bisa dengan cepat menenangkannya.” Tapi kalau kamarnya dipisah, dikhawatirkan orang tua tak bisa langsung mendengar tangisan anak, sehingga anak jadi merasa tak aman.

TETAP MANDIRI

Soal kemandirian, menurut Mayke, belum ada penelitian yang kuat bahwa dengan membiasakan bayi tidur sendiri dapat melatih kemandiriannya kelak. Sementara untuk membentuk keberanian anak tidur di kamar sendiri, orang tua masih memiliki kesempatan ketika anak berusia 3 hingga 5 tahun.

Memang, diakui Mayke, pada beberapa kasus ditemui anak yang tidur sekamar dengan orang tuanya setelah besar sulit dipisah untuk tidur sendiri. Namun beberapa kasus lain malah sebaliknya, anak bisa dengan mudah diarahkan. “Hal ini tergantung dari anak itu mudah diarahkan atau tidak. Kalau anak sangat manja memang agak sulit dipisah. Jadi sifatnya sangat individual, tak bisa dipukul rata begitu saja,” terangnya.

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan juga ialah ketidakrelaan orang tua sendiri untuk melepas anaknya tidur sendiri. “Beberapa orang tua ada yang merasa tak tega bila anaknya tidur di kamar sendiri. Ada juga yang merasa lebih nyaman dan aman bila anak tidur di samping mereka,” tuturnya. Akibatnya, bisa-bisa sampai si anak sudah di SMA pun masih tidur dengan orang tuanya.

TIDAK SEKAMAR DENGAN PENGASUH

Tak jarang terjadi, bayi tidur terpisah dari orang tua namun sekamar dengan pengasuhnya. Mayke sama sekali tak setuju. “Selelah apapun orang tua, sebaiknya malam hari bayi tidur dengan orang tua, bukan dengan pengasuhnya,” tukasnya.

Memang akan melelahkan orang tua karena bayi sering terbangun, tapi itu sudah jadi risiko orang tua kalau ingin punya anak. Namun yang lebih penting dari itu, “ini merupakan suatu momen yang bisa dimanfaatkan orang tua untuk dekat dengan anaknya. Jadi ketika si anak butuh, maka orang tualah yang ada untuk dia.” Apalagi bila bayi sedang sakit, ia sangat membutuhkan rasa aman. Nah, tentunya akan lebih baik apabila rasa aman tersebut didapatkan si bayi dari orang tuanya.

Salah satu dampak yang terjadi bila bayi tidur dengan pengasuhnya adalah ia akan merasa jauh dengan orang tua. “Orang tua hanya dianggap sebagai pemuas kebutuhan materi saja. Anak jadi merasa tak dekat dengan orang tua.” Itulah mengapa terjadi ada anak yang lebih dekat dengan pengasuhnya ketimbang orang tua, sehingga ketika pengasuhnya pulang si anak pun sakit.

Saran Mayke, nikmatilah selagi kita masih punya kesempatan bersama anak. Karen kalau anak sudah besar, maka dia akan jarang menghabiskan waktu bersama anak. Tentunya Bapak dan Ibu tak ingin menyesal di kemudian hari, kan?

Faras Handayani.

KAMAR YANG PAS

Terlepas dari bayi tidur terpisah atau bersama orang tua, yang tak boleh dilupakan adalah kondisi kamarnya. Nah, seperti apa kamar yang pas untuk bayi, mari kita simak tips berikut ini dari Mayke.

* Kebersihan.
Kebersihan ruangan harus selalu dijaga. Terlebih bila bayi sekamar dengan orang tua, jangan sampai orang tua membiarkan pakaian-pakaian kotor berserakan. Selain tak bersih dan mengundang datangnya nyamuk, juga baunya jadi kurang sedap. Tentunya hal ini tak bagus buat kesehatan bayi.

Selain itu, ventilasi untuk sirkulasi udara dan masuknya sinar matahari harus baik. Bayi sebaiknya tidak tidur menghadap sinar matahari karena ia akan merasa tak nyaman.

* Warna Dinding.
Sebaiknya tak terlalu didominasi warna mencolok, karena warna yang kelewat terang bisa melelahkan mata bayi. Yang paling ideal adalah warna-warna lembut. Biasanya yang menyejukkan adalah warna-warna biru muda dan pink. Warna cerah yang mencorong sebaiknya hanya untuk aksentuasi saja.

* Keamanan Perlengkapan.
Perlengkapan standar yang dibutuhkan adalah tempat tidur bayi atau boks. Namun orang tua harus memberi perhatian ekstra akan keamanannya. Tempat tidur/boks yang aman memiliki penghalang kuat, sehingga tak memungkinkan bayi yang nantinya dapat merangkak bisa terjatuh. Tempat tidur/boks sebaiknya juga tak terlalu tinggi.

Idealnya, tempat tidur/boks bayi dilengkapi pula dengan baby tafelyang berfungsi untuk tempat mengganti popok bayi bayi. Jikapun tak ada, orang tua bisa mengganti popok bayi di atas tempat tidur/boksnya, asalkan tak melupakan keamanannya.

Baby tafel juga bisa diganti dengan meja yang sudah diberi matras kecil supaya tak terlalu keras. Yang nomor satu harus diperhatikan ialah segi keamanan dan kebersihan peralatannya. Kalau soal estetika, tergantung dana yang ada.

* Kepraktisan Tata Letak.
Perlengkapan kamar sebaiknya ditata sedemikian rupa mudah bagi orang tua untuk mengambil pakai an, popok dan sebagainya di tempat yang mudah dijangkau. Karena bayi biasanya perlu cepat untuk diganti, terutama popoknya lantaran buang air kecil atau besar. Pendeknya, tata-letak perlengkapan tersebut harus praktis.

Masih demi kepraktisan, orang tua sebaiknya jangan hanya melihat perlengkapan tersebut dari segi keindahannya saja. Percuma indah kalau lemari, misalnya, sulit dibuka pada saat dibutuhkan. Yang tak kalah penting, jangan taruh barang yang yang tak dibutuhkan di lingkungan kamar bayi. Cuma bikin sumpek saja. Tak baik juga untuk kesehatan bukan?

* Kelilingi Dengan Stimulus.
Selain berfungsi sebagai tempat istirahat, kamar juga berguna untuk menstimulasi bayi. Sebaiknya sekitar tempat tidur/boks bayi dikelilingi oleh stimulus-stimulus yang sesuai dengan umur bayi.

Bayi yang baru lahir hingga berusia 2 bulan masih terbatas pendengaran dan penglihatannya. Mereka belum dapat membedakan warna dengan baik, sehingga stimulus yang efektif untuk mereka sebaiknya berwarna hitam dan putih saja. Stimulus ini bertujuan merangsang indera penglihatan bayi supaya ia belajar mengamati lingkungan terdekatnya.

Jika orang tua mau memberi mainan di sekitar boks bayi, maka bisa dibuatkan semacam kain perca dengan bentuk-bentuk geometris seperti segitiga atau lingkaran. Warnanya juga hanya hitam dan putih. Mainan tersebut diletakkan dalam jarak yang tak terlalu jauh agar dapat tertangkap oleh mata bayi, yaitu sekitar 20 inci dari mata bayi.

Baru setelah usia 2 bulan, penglihatannya akan semakin baik sehingga perangsangannya bisa ditambah dengan warna lain. Biasanya yang dipilih warna-warna cerah semisal merah, biru dan hijau. Namun sebaiknya warna-warna tersebut diganti-ganti sekitar 2 atau 3 hari.

Tentunya untuk bisa menyediakan semua stimulus tersebut diperlukan dana. Namun tak usah khawatir bila dananya terbatas, karena tak semua stimulus perlu dibeli di toko. Yang diperlukan cuma kreativitas ayah dan ibu, kok, untuk me buatnya sendiri di rumah. Misalnya, hiasan dinding bisa tercipta dengan membuat guntingan majalah yang direkatkan di sehelai karton. Contoh, guntingan gambar orang setengah badan yang di majalah untuk merangsang bayi mengenali bentuk wajah. Atau, untuk melatih pendengar bayi bisa dibuat kerincingan dari kaleng bekas Redoxon yang diisi beras atau kacang hijau. Tapi jangan lupa keamanannya, yakni melilit penutupnya dengan selotip.

Jika si kecil tidur sekamar dengan ayah dan ibu, boleh disediakan satu pojok kamar untuk diberi stimulus baginya. Yang penting diingat, pojok tersebut maupun seluruh ruangan kamar bayi hendaknya jangan digantungi hiasan terlalu banyak. Karena rentang perhatian bayi masih terbatas. Mereka sulit menangkap banyak stimulus sekaligus. Lebih baik dipasangnya berganti-ganti. Selain itu, jangan lupa keamanan dari stimulus-stimulus tersebut. Teraklhir, dengan banyak hiasan/stimulus tentunya dibutuhkan ekstra tenaga untuk membersihkan. Iya, kan!

About madinaid
it consultan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: