Memandikan Bayi

MANDI, YUK MANDI

Bayi harus mandi. Kalau dilap saja, mana bersih! Nah, apa saja yang harus diperhatikan kala memandikan bayi?

“Aduh, Suster, saya masih ngeri memandikan bayiku. Pusarnya belum puput,” ujar seorang ibu muda kala hendak meninggalkan rumah sakit. Keluhan demikian, seperti dituturkan Suster Edlina Sitorus, Kepala Urusan Perawatan Bayi dari RSIA Hermina Podomoro, kerap terdengar. Padahal, terangnya, “Anggap saja di badan bayi nggak ada apa-apanya. Kalau memandikannya tak benar atau tali pusatnya dikorek-korek, baru bisa infeksi. Nah, itu yang ibu-ibu tidak mengerti.”

Menurut dr. Ade Djanwardi Pasaribu, SpA dari RSIA yang sama, kebanyakan ibu tak berani memandikan bayi karena ia belum terlatih. Makanya, “Setelah melahirkan, sang ibu sebaiknya belajar pada suster di rumah sakit tentang bagaimana cara memandikan bayi dan minimal pernah sekali memandikannya,” anjur Ade pada kesempatan terpisah.

DUA KALI SEHARI

Pada dasarnya, memandikan bayi merupakan perawatan kulit bayi. Dengan mandi, terang Ade, akan menghilangkan keringat yang menempel di kulit bayi dan penguapan lewat kulitnya pun jadi lebih bagus. “Bila tak dimandikan, penguapan melalui kulitnya tak baik. Bisa menyebabkan biang keringat, lalu timbul gatal-gatal, bahkan sampai infeksi kulit,” tutur lulusan FK Unpad ini.

Lagipula dengan membiasakan bayi mandi, lanjut Ade, nantinya sebagai tahap untuk mengenal lingkungan di luar dirinya. “Kebiasaan memandikan teratur sejak dini juga akan berpengaruh pada saat si anak besar. Anak jadi nggak takut mandi. Apalagi pada dasarnya anak atau bayi tak ada yang enggan mandi. Malahan kalau orang asing, bayinya sudah dibawa berenang,” tuturnya.

Edlina menegaskan, “Bayi harus mandi selama ia sehat dan tak ada masalah.” Mandi pun jangan hanya sekedar dilap dengan air hangat karena kurang bersih, kecuali si bayi sedang sakit. Sebaiknya bayi dimandikan dua kali sehari, anjur lulusan SPR RS DGI Tjikini ini, “Pagi jam tujuh agar tak terlalu kepagian dan tak membikin si bayi kedinginan. Lalu sore pukul empat.”

AIR HANGAT ATAU DINGIN

Umumnya bayi dimandikan dengan air hangat. Karena, seperti dituturkan Ade, bayi masih rentan terhadap suhu dingin. “Kalau kedinginan, metabolismenya atau pembakarannya akan meningkat. Jadi, makanannya habis untuk mengatur suhu tubuhnya sehingga bisa membuat si bayi sakit,” terangnya.

Ade tak menentukan sampai usia berapa bayi harus dimandikan dengan air hangat. “Yang penting, sesuaikan dengan keadaan si bayi dan keadaan cuaca,” katanya. Keadaan bayi, maksudnya setelah si bayi bisa mengatur suhu tubuhnya. Juga, seperti dikatakan Edlina, jika bayi sering kena biang keringat. “Kalau selalu dimandikan pakai air panas, biang keringat akan bertambah banyak,” katanya.

Sedangkan cuaca, misalnya jam empat sore cuacanya panas, maka si bayi boleh dimandikan dengan air dingin. “Tapi kalau takut bayinya akan kedinginan dimandikan dengan air dingin, ya, pakailah air hangat,” kata Ade. Atau pagi hari saat hujan, sebaiknya tentu dimandikan pakai air hangat.

Menurut Edlina, biasanya bayi bisa “dilepas” mandi dengan air dingin jika usianya sudah dua bulan. “Tapi memandikannya jangan di ruangan ber-AC, ya,” katanya mengingatkan, “Atau, matikan AC-nya kala si bayi dimandikan agar tidak kedinginan.” Jangan pula langsung memandikan si bayi kala ia baru habis diajak jalan-jalan atau pulang dari bepergian.

Dedeh Kurniasih.

Perlengkapan Yang Disiapkan

* Bak Mandi
Isi bak mandi bayi dengan air hangat. Ukurannya setinggi setengah bak mandi bayi.

* Waslap
Sediakan dua waslap. Satu untuk sabun dan satu lagi untuk sampo.

* Baskom Plastik
Sediakan dua baskom plastik kecil. Isi dengan air untuk membilas sabun dan samponya.

* Sabun
Gunakan sabun khusus bayi dari jenis yang tak menimbulkan iritasi pada kulit tubuh bayi. Sekarang banyak sabun hypoallergic yang bisa dipakai. Iritasi bisa menimbulkan alergi, biasanya terjadi bintik-bintik kecil pada kulit yang bisa menjadi eksim. Reaksinya pada bayi cepat tampak tapi sangat individual sifatnya, tergantung bayinya. Karena itu, berhati-hatilah memilih sabun.

* Sampo
Seperti sabun, hindari sampo yang dapat menimbulkan iritasi pada kulit kepala bayi. Sebaiknya keramas pada bayi dilakukan seminggu sekali.

* Kasa Steril
Bila tali pusat bayi belum puput, sediakan kasa steril. Rendam dalam alkohol 70 persen. Kasa ini digunakan untuk membungkus pangkal tali pusat setelah si bayi usai dimandikan.

Kasa juga bisa digunakan untuk membersihkan lidah bayi. Gulungkan kasa di jari telunjuk dan basahi dengan air hangat, lalu peras airnya. Masukkan jari berkasa itu ke mulut bayi dan bersihkan lidahnya secara lembut. Lakukan setiap pagi sebelum bayi dimandikan.

* Kapas Steril
Kapas yang disediakan sebaiknya sudah digodok air mendidih dari jauh-jauh hari dan dikeringkan. Simpan dalam toples setelah dibentuk bulatan-bulatan kecil. Kapas ini bisa digunakan bersama kasa untuk membersihkan mulut bayi.

Selain mulut, kapas digunakan untuk membersihkan mata bayi. Basahi dengan air hangat, lalu bersihkan mata bayi dari arah luar ke dalam karena kotoran mata ada di bagian dalam.

Kapas yang sudah dibasahi air hangat juga digunakan untuk membersihkan alat kelamin. Dimulai dari bagian depan baru ke belakang. Sebaiknya alat kelamin dibersihkan sebelum bayi dimandikan, sehingga air mandinya tetap bersih. Sesudah mandi, boleh dibersihkan lagi.

Baik kapas maupun kasa digunakan sekali pakai. Selalu sediakan sebelum bayi dimandikan.

* Cotton buds
Digunakan untuk membersihkan telinga bayi, sebelum atau sesudah bayi dimandikan.

* Betadine
Perlu disediakan bila tali pusar sudah puput dan bagian dalamnya belum kering betul. Betadine diberikan setiap habis mandi selama 3 hari.

* Minyak Telon
Setelah dikeringkan sehabis mandi, bayi biasanya diberi minyak telon untuk menghangatkan badannya. Oleskan sedikit saja di perut dan boleh juga di punggu g. Begitupun bila terlihat perut bayi kembung dapat diolesi minyak telon.

* Krim
Boleh disediakan untuk dipakaikan di lipatan-lipatan seperti paha agar kulitnya tak lecet.

* Bedak
Sejumlah dokter tak menganjurkan bayi diberi bedak. Sebab jika diberikan terlalu banyak (tebal) bisa menjadi daki, bercampur keringat akan menggumpal dan bisa merangsang penyakit kulit (dermatitis). Jadi, pakaikan tipis-tipis saja. Bedaknya pun khusus untuk bayi. Sebelum pakai bedak, kulit bayi harus sudah kering betul.

* Perlak
Untuk alas mandi bayi kecil dan alas lainnya.

* Handuk
Sediakan handuk besar dan lembut. Letakkan dalam keadaan melebar di atas meja ganti popok atau di atas tempat tidur.

* Pakaian Ganti
Siapkan baju dan popok/celana ganti. Jika si bayi belum bisa duduk, susunlah pakaiannya dalam keadaan siap pakai di atas tempat tidur. Mula-mula perlak, alas perlak, bedongan (bila perlu), baju, lalu popok. Sarung tangan dan kaki (bila perlu) letakkan tak jauh dari susunan tersebut.

Pemakaian bedong dan sarung tangan/kaki hanya bila perlu. Karena sebaiknya bayi tak dibiasakan dibedong agar bisa bebas bergerak. Tangan dan kakinya juga dibiarkan telanjang agar bayi mengembangkan indera perabanya. Lagipula, bila tangan, kaki, dan tubuhnya dibungkus, kita tak bisa melihat jika ada sesuatu kelainan pada si bayi.

* Perlengkapan Lain
Gunting, sisir, termometer untuk mengukur suhu tubuh bayi sebelum dimandikan, dan handuk kecil.

Dedeh

Cara Memandikan

Setelah semua perlengkapan disiapkan dan si kecil sudah dibersihkan mulut, mata, telinga serta kelaminnya, ia pun siap dimandikan. Ikuti langkah-langkah berikut:

1. Taruh bayi di atas perlak. Lepaskan kasa pembungkus pangkal talit pusat bila tali pusatnya belum puput.

2. Tutupi tubuh bayi (bisa digunakan kain bedong atau handuk kecil yang lembut) agar tak kedinginan karena Anda akan mengeramasi kepalanya lebih dulu sebelum membasuh tubuhnya dengan air dan menyabuninya.

3. Pegang bagian punggung dan leher bayi dengan telapak tangan kiri sementara ibu jari dan telunjuk menutup telinga kanan dan kiri si bayi agar tak kemasukan air.

4. Dengan tangan kanan, basuh kepalanya pakai air dari baskom pertama. Tuang sedikit sampo ke rambutnya, lalu keramasi dengan lembut. Hati-hati terhadap ubun-ubunnya yang masih sangat lembut. Juga jaga jangan sampai sampo mengenai mata bayi.

5. Ambil waslap pertama, celupkan ke dalam air di baskom pertama, lalu bilas kepalanya dengan lembut.

6. Selanjutnya buka penutup tubuh bayi, basuh tubuhnya dengan air dari baskom kedua. Sabuni bagian depan tubuhnya. Tak apa-apa bila tali pusatnya yang belum puput terkena air atau sabun.

7. Perlahan-lahan lepaskan telapak tangan Anda dari leher si bayi, lalu miringkan tubuhnya ke kiri dan kanan dengan memiringkan kepalanya untuk menyabuni bagian belakang tubuhnya. Selanjutnya pegang tangan kanan si bayi berganti dengan tangan kiri, kaki kanan dan kiri untuk disabuni pula. Lakukan secara lembut.

8. Ambil waslap kedua, celupkan ke dalam air di baskom kedua, lalu bilas tubuh si bayi.

9. Setelah itu angkat si bayi untuk dimasukkan ke dalam bak mandinya. Sangga punggung dan lehernya dengan lengan kiri sementara telapak tangan Anda menyangga ketiak kirinya. Lakukan bilasan terakhir dengan membasuh seluruh tubuhnya, dimulai dari bagian kepala. Usahakan jangan lama-lama agar si bayi tak kedinginan.

10. Setelah tak ada lagi tersisa bekas busa sabun dan sampo, angkat si bayi dan letakkan di atas handuk yang telah disiapkan, tepat di tengah-tengah. Tutup tubuh bayi dengan bagian handuk di sebelah kiri dan kanan, lalu keringkan kepalanya dengan “sisa” handuk di bagian atas. Setelah itu keringkan seluruh tubuhnya, tangan dan kaki.

11. Pindahkan si bayi ke susunan pakaiannya. Perhatikan tali pusatnya. Bersihkan dengan cotton buds yang telah dibasahi alkohol 70 persen bila terdapat kerak di pinggiran pusar maupun kotoran di bagian dalamnya. Lalu libat pangkal tali pusat dengan kasa steril yang sudah dicelup alkohol 70 persen.

12. Olesi perut dan pung ung bayi dengan minyak telon. Beri bedak. Boleh juga diberi krim pada daerah lipatan paha.

13. Setelah itu pakaian popoknya, baru kemudian bajunya. Selanjutnya sisiri rambutnya. Nah, si kecil sekarang sudah bersih dan wangi.

14. Bila bayi menangis terus sehabis mandi, boleh dibedong sebentar untuk menghangatkan tubuhnya. Kira-kira satu jam, lalu buka bedongnya agar ia bebas bergerak.

Tambahan:

* Anda dapat mendudukkan si bayi di bak mandinya bila ia sudah dapat duduk, sehingga lebih memudahkan saat dimandikan. Bila ia belum bisa duduk sendiri, sangga bagian belakangnya dengan lengan kiri sementara tangan Anda menyangga ketiak kirinya.

* Bila si kecil sudah bisa berdiri, lebih mudah lagi. Ia bisa diajak mandi di kamar mandi orang dewasa. Tapi hati-hati dengan lantai kamar mandi. Jangan sampai si kecil tergelincir.

Julie, Dedeh
————————————————————————————————-

ADUH, KOK, MUNTAH TERUS

Hampir setiap bayi pernah muntah dan bisa terjadi di usia berapa saja. Muntah seperti apa yang harus diwaspadai?

Para ibu, apakah Anda masih memakaikan gurita pada si kecil? Bila ya, sebaiknya segeralah hentikan. Sebab, seperti dituturkan dr. Kishore R.J., SpA dari RSIA Hermina Podomoro, pemakaian gurita dapat menyebabkan bayi muntah.

Lo, apa hubungannya? “Pemakaian gurita membuat lambung si bayi tertekan. Bila dalam keadaan seperti itu si bayi dipaksakan minum, maka cairannya akan tertekan. Muntahlah dia,” jelas Kishore.

Hal lain yang paling sering bikin bayi muntah ialah posisi menyusui. Sering ibu menyusui sambil tiduran dengan posisi miring sementara si bayi tidur telentang. Akibatnya, cairan tersebut tidak masuk ke saluran pencernaan, tapi ke saluran nafas. Bayi pun muntah. Karena itu, Kishore mengingatkan, “Kalau menyusui, posisi bayi dimiringkan. Kepalanya lebih tinggi dari kaki sehingga membentuk sudut 45 derajat. Jadi cairan yang masuk bisa turun ke bawah.”

Untuk bayi yang menyusu dari botol, pemakaian bentuk dot juga berpengaruh pada muntah. Jika si bayi suka dot besar lalu diberi dot kecil, ia akan malas mengisap karena lama. Akibatnya susu tetap keluar dari dot dan memenuhi mulut si bayi. Hal ini bisa membuat bayi tersedak yang lalu muntah. Sebaliknya bayi yang suka dot kecil diberi dot besar akan refleks muntah karena ada benda asing.

GUMOH

Muntah yang sering terjadi dan biasa dialami pada bayi ialah muntah yang disebut gumoh. Hal ini disebabkan fungsi pencernaan bayi dengan peristaltik (gelombang kontraksi pada dinding lambung dan usus) untuk makanan dapat masuk dari saluran pencernaan ke usus, masih belum sempurna. Itu sebabnya ada makanan yang masih tetap di lambung, tidak keluar-keluar karena peristaltiknya tidak bagus. Akibatnya, terjadilah muntah atau gumoh.

Biasanya bayi mengalami gumoh setelah diberi makan. Selain karena pemakaian gurita dan posisi saat menyusui, juga karena ia ditidurkan telentang setelah diberi makan. “Cairan yang masuk di tubuh bayi akan mencari posisi yang paling rendah. Nah, bila ada makanan yang masuk ke oserfagus atau saluran sebelum ke lambung, maka ada refleks yang bisa menyebabkan bayi muntah,” terang Kishore.

Lambung yang penuh juga bisa bikin bayi gumoh. Ini terjadi karena makanan yang terdahulu belum sampai ke usus, sudah diisi makanan lagi. Akibatnya si bayi muntah. “Lambung bayi punya kapasitasnya sendiri. Misalnya bayi umur sebulan, ada yang sehari bisa minum 100 cc, tapi ada juga yang 120 cc. Nah, si ibu harus tahu kapasitas bayinya. Jangan karena bayi tetangganya minum 150 cc lantas si ibu memaksakan bayinya juga harus minum 150 cc, padahal kapasitasnya cuma 120. Jelas si bayi muntah.”

BISA MASUK PARU-PARU

Muntah pada bayi bukan cuma keluar dari mulut, tapi juga bisa dari hidung. Tapi tak usah cemas. Hal ini terjadi karena mulut, hidung, dan tenggorokan punya saluran yang berhubungan. Pada saat muntah, ada sebagian yang keluar dari mulut dan sebagian lagi dari hidung. Mungkin karena muntahnya banyak dan tak semuanya bisa keluar dari mulut, maka cairan tu mencari jalan keluar lewat hidung.

Yang perlu dikhawatirkan, seperti dituturkan Kishore, bila si bayi tersedak dan muntahnya masuk ke saluran pernafasan alias paru-paru. “Nah, itu yang bahaya,” tukasnya. Lebih bahaya lagi jika si bayi tersedak susu yang sudah masuk ke lambung karena sudah mengandung asam dan akan merusak paru-paru. Jika ini yang terjadi, tak ada pilihan lain kecuali membawanya ke dokter.

Untuk mencegah kemungkinan tersedak, Kishore menganjurkan agar setiap kali bayi muntah selalu dimiringkan badannya. Akan lebih baik jika sebelum si bayi muntah (saat menunjukkan tanda-tanda akan muntah) segera dimiringkan atau ditengkurapkan atau diberdirikan sambil ditepuk-tepuk punggungnya.

Adakalanya ibu yang kasihan melihat bayinya muntah lalu diberi minum lagi. Menurut Kishore, boleh-boleh saja, “Asal proses muntahnya sudah dibersihkan sehingga tak ada lagi sisa muntah. Kalau muntahnya masih ada terus diberi minum lagi, si bayi bisa kelepekan sehingga masuk ke saluran nafas.”

Soal sampai kapan si bayi berhenti muntah dalam arti gumoh, menurut lulusan FK Universitas Airlangga Surabaya yang mengambil spesialisasinya di FKUI ini, tak sama pada setiap bayi. Tapi pada umumnya, setelah si bayi mulai bisa duduk dan berdiri, biasanya frekuensi muntahnya berkurang banyak karena cairan turun ke bawah menjadi lebih gampang.

Julie/Dedeh Kurniasih.Foto:Rohedi(nakita)

Muntah Yang Harus Diwaspadai

Ada beberapa bentuk muntah pada bayi yang harus diwaspadai para ibu, yakni:

* Muntah sehabis diberi makan atau disusui bila muntahnya berwarna hijau tua.

Hal ini menunjukkan ada kelainan pada saluran pencernaan si bayi, yakni ada sumbatan di bawah usus halus. Warna hijau tua pada muntah merupakan cairan dari empedu yang keluar. Kadang kalau ada sumbatan, meskipun si bayi tidak makan, ia bisa muntah karena cairan empedu keluar dan enzim-enzim lain tak bisa lewat.

Ada dua macam sumbatan, yang penuh dan parsial (sebagian). Sumbatannya bisa di mana saja. Bisa di antara oserfagus dan lambung atau antara lambung dan usus. Karena ada sumbatan yang parsial, kadang kelainan ini tak bisa diketahui secara pasti penyebabnya sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Misalnya dengan rontgen atau USG dicari penyebabnya lalu dihilangkan. Bila perlu dilakukan operasi jika sumbatannya akibat tumor atau kelainan bawaan. Tapi kasus seperti ini jarang terjadi.

* Bentuk muntahannya menyemprot seperti air mancur.

Makan atau tidak makan, si bayi mengelurkan muntah yang menyemprot seperti air mancur. Ini harus segera diperiksakan ke dokter. Karena muntah yang demikian menunjukkan ada kelainan pada susunan saraf pusat di otak si bayi. Biasanya terjadi jika si bayi habis terjatuh.

* Muntah karena keracunan.

Anda mungkin bingung. Bayi, kok, bisa keracunan makanan? “Memang seharusnya tidak boleh terjadi keracunan makanan pada bayi mengingat bayi hanya makan makanan rumah. Tapi hal itu bisa saja terjadi,” tutur Kishore. Misalnya, pengasuh tak mencuci tangannya dengan bersih sebelum membuatkan makanan bayi. Atau botol susunya tidak disterilkan. Hal ini selain menyebabkan keracunan, juga bisa membuat infeksi pada saluran pencernaan.

Gejala awal keracunan adalah muntah-muntah yang lalu diikuti diare. Tapi kalau infeksi pada saluran pencernaan, diare lebih dulu yang terjadi. Baru setelah itu ada gangguan keseimbangan elektrolit yang menyebabkan muntah. Bentuk muntahnya sama, berupa cairan. Bayi harus diberi banyak cairan setiap kali habis muntah dan diare. Cairan apa saja. Entah itu air tajin, larutan gula garam, teh manis pakai gula, maupun jus buah (asal jangan yang asam).

Dibanding diare, menurut Kishore, muntah lebih berbahaya. Karena muntah berarti tak ada cairan yang masuk, yang bisa menyebabkan kekurangan cairan atau dehidrasi. Tapi kalau diare dan si bayi masih mau minum, tak masalah sebetulnya, selama yang diminum dan dikeluarkan proporsinya sama.

Bayi yang mengalami dehidrasi dapat dilihat dari mulutnya yang mengering, mata cekung, hampir tak ada air mata, bila ditekan kulitnya tak kembal ke bentuk semula (tidak elastis sebagaimana kulit normal). “Mungkin kalau bayi lebih gampang terlihat dari berat badannya. Kalau turun berarti ada tanda-tanda dehidrasi,” tutur Kishore. Jika berat badan si bayi turun lebih besar atau sama dengan 5-10 persen dari berat badannya, maka si bayi harus diinfus.

* Muntah darah.

Ada kemungkinan bayi muntah disertai darah. Jika hanya berupa bercak, berarti ada streching (luka di tenggorokan) akibat muntah. Jika muntahnya berwarna merah dan byor-byoran, bisa dicurigai ada pembuluh darah yang pecah. Jika darahnya berwarna hitam, berarti ada darah di lambung. “Kadang si bayi mimisan dan darahnya tertelan sampai ke lambung. Hal ini menimbulkan rasa tak enak, sehingga si bayi refleks untuk muntah,” terang Kishore.

Pemeriksaan ke dokter dilakukan tergantung pada jenis dan banyaknya darah. Pendarahan yang banyak sangat berbahaya karena menurunkan kadar hemoglobin sehingga bayi kekurangan cairan dalam pembuluh darah.

Dedeh

Membersihkan Muntah

Langsung bersihkan bekas muntah dengan lap basah atau kering agar tak sempat berkontak terlalu lama dengan kulit si bayi. Kalau tidak, kulit akan memerah atau terjadi iritasi, yang berarti harus dilakukan pengobatan khusus.

Untuk membersihkan bekas muntah pada perabot atau lantai maupun pakaian yang terkena muntah, gunakan campuran air dan soda kue. Selain dapat menghilangkan noda yang menetap, juga akan menghilangkan baunya.

Dedeh

Mencegah Muntah

Masih ada beberapa hal lagi yang perlu diperhatikan para ibu untuk mencegah kemungkinan bayi muntah, yakni:

* Jangan memberi minum susu selagi bayi menangis. Berhentilah menyusui untuk menenangkannya.

* Tegakkan bayi setegak mungkin selama dan beberapa waktu setelah minum susu.

* Pastikan dot botol tak terlalu besar atau terlalu kecil, dan botol dimiringkan sedemikian rupa sehingga susu, bukan udara, yang memenuhi bagian dotnya.

* Jangan mengangkat-angkat si bayi selama atau sesudah ia minum. Jika mungkin letakkan dan ikat sebentar si bayi pada kursi bayi atau kereta dorongnya.

* Jangan lupa membuat bayi bersendawa.

Dedeh
————————————————————————————————-

HATI-HATI MEMBEDAKI BAYI

Ternyata bayi tak wajib pakai bedak. Apa sebab? Jikapun ingin membedakinya, boleh-boleh saja. Asal hati-hati. Jangan sampai mengenai alat kelamin, terutama pada anak perempuan.

Sehabis bayi dimandikan, biasanya para ibu akan membubuhkan bedak di tubuh si bayi. Begitupun setelah si bayi usai dibersihkan sehabis buang air, tak lupa dibedaki. Tujuannya agar kulit si kecil tak jadi kasar atau timbul lecet-lecet.

Hal ini, menurut dr. Darmawan B.S., Sp.A dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUPN-CM FKUI, sedikit banyak ada benarnya. “Bedak memang bisa untuk mengurangi keringat. Juga berfungsi sebagai pelicin karena kulit bayi masih sangat peka dan gampang luka akibat gesekan. Nah, dengan bedak, gerakan-gerakannya jadi lebih smooth,” terangnya.

Selain itu, bedak juga memberi kesegaran dan rasa nyaman pada kulit. Apalagi bedak kadang diberi kandungan bahan-bahan aktif, seperti mentol, yang membuat badan terasa adem dan nyaman dipakai.

TIDAK WAJIB

Kendati demikian, penggunaan bedak pada bayi tidaklah wajib. Karena, seperti dituturkan Darmawan, tak memakai bedak pun sebetulnya enggak apa-apa. “Ibu-ibu memakaikan bedak pada anaknya, kan, biasanya secara otomatis. Karena sejak dulunya orang tua mengerjakan seperti ini.”

Alasan lain, karena kekhawatiran orang tua. “Takut anaknya merasa tak nyaman.” Tapi jika kulit si bayi terlalu sensitif alias gampang alergi, alasan ini justru bisa jadi bumerang. Karena pemakaian bedak hanya akan menambah alergi. Jadi, bukannnya melindungi kulit, malah membikin si kulit jadi terkena iritasi.

Bagaimana dengan bedak yang mengandung vitamin atau pelembab? Seperti kita ketahui, sekarang banyak dijual aneka bedak bayi dengan berbagai zat tambahannya, yang katanya untuk mengurangi iritasi. Menurut Darmawan, vitamin memang diperlukan oleh tubuh. Tapi penye apan vitamin oleh kulit tak sekuat melalui alat cerna. Jadi? “Penggunaannya sebenarnya tak vital sekali,” tukas Darmawan.

Namun begitu, Darmawan menyerahkan keputusan pada para ibu untuk memilih bedak yang mana. Hanya harap diingat, biasanya harganya jadi lebih mahal daripada bedak-bedak bayi biasa. “Nah, nilai mahal ini sebanding tidak dengan manfaatnya?” ujar Darmawan.

Apalagi jika kondisi kulit si bayi termasuk kategori “bandel”. Artinya, tak masalah dengan bedak apa pun. Jadi mengapa harus memakai bedak yang istimewa. “Lebih baik pakai bedak yang biasa saja. Toh, itu cukup,” anjur Darmawan. “Bahkan tanpa diberi bedak juga tak apa-apa. Karena bedak sifatnya hanya untuk melicinkan atau menyamankan.”

Lain hal jika memang kulit si bayi jenis sensitif, “Mungkin ia bisa cocok dengan bedak-bedak yang diperkaya bahan-bahan tambahan tersebut,” kata Darmawan. Tapi itu pun masih tergantung pula pada daya penerimaan kulit si bayi. Jadi kalau sudah diberi bedak ternyata kulit si bayi tetap saja alergi, “Lebih baik tak diberi apa- apa.” Jikapun ingin tetap diberi bedak, anjurnya, gunakan bedak hipoalergenik, yang dibuat selembut mungkin dan tak menyebabkan hipersensitivitas.

SANGAT SENSITIF

Penting diingat, kulit bayi masih sangat sensitif. “Kulit bayi lebih tipis, baik epidermis maupun dermisnya, dibandingkan kulit orang dewasa. Selain itu, produksi kelenjar keringat dan minyak kulit bayi masih belum sempurna, sehingga kelembabannya harus selalu dijaga,” terang Darmawan. Itu sebabnya kulit bayi sangat peka dan mudah terkena iritasi. Baik karena masuknya benda luar, maupun akibat friksi atau gesekan.

Kesensitifan kulit bayi, selain disebabkan umur si bayi yang masih muda (0-1 tahun), juga dipengaruhi faktor keturunan atau bakat. “Ada, kan, orang yang lebih sensitif dari orang lain?” ujar Darmawan. Nah, begitu pula dengan kulit bayi.

Setelah usia 5 tahun, barulah kulit si anak sempurna seperti halnya kulit orang dewasa. Itulah mengapa anak usia di atas 5 tahun meskipun masih sering ngompol tapi kulitnya enggak apa-apa. Lantaran kulitnya sudah lebih tahan terhadap “serbuan” dari luar.

IRITASI VAGINA

Untuk para ibu yang terbiasa membedaki bayinya, Darmawan menganjurkan agar berhati-hati. “Jangan main teplok saja. Terutama di sekitar lipatan pahanya. Salah-salah si bedak bisa masuk ke vagina anak.”

Yang paling riskan memang untuk alat kelamin wanita. Kalau alat kelamin lelaki, menurut Darmawan, relatif lebih aman. Karena strukturnya relatif lebih terlindungi. Berbeda dengan kelamin wanita, yang lebih terbuka, sehingga mudah terkena infeksi akibat masuknya benda-benda yang tak diinginkan. Contohnya serbuk bedak ini.

Seperti dituturkan Darmawan, kulit di bagian dalam saluran reproduksi wanita, termasuk vagina, sangat halus. Kulit ini disebut mukosa. Nah, mukosa ini susunan selnya berbeda dengan kulit luar. Kalau kulit luar, dilapisi oleh epitel gepeng, sehingga relatif lebih kuat gempuran dari luar. Tapi yang mukosa, epitelnya berbentuk batang atau kubus sehingga lebih halus dan sensitif. Jadi kalau ada serbuk bedak yang masuk, akan menyebabkan iritasi.

Untuk mengetahui ada-tidak iritasi, lihatlah apakah ada tanda-tanda radang atau tidak. Tanda-tandanya ialah seperti ada tumor (bengkak), rubor (kemerahan), dolor (nyeri), dan kalor (panas)). Nah, bila ada tanda-tanda tersebut berarti terdapat iritasi.

SEMBUH SENDIRI

Selain karena masuknya serbuk bedak, radang di daerah vagina juga bisa disebabkan masuknya zat-zat lain. Misalnya ketumpahan susu atau kemasukan sampo kala mengeramasinya. Bahkan, tangan pembantu atau pengasuh yang tak bersih, habis memegang sesuatu lalu menceboki si bayi tanpa cuci tangan dulu, sehingga kotorannya masuk ke dalam.

Namun demikian, para ibu tak perlu terlalu khawatir. Karena serbuk bedak biasanya tak sampai masuk ke dalam vagina. “Paling-paling hanya di bagian mulut vagina saja, sehingga radang tersebut hanya jangka pendek saja. Juga tak menyebabkan mengkristal atau hal lainnya yang akan mengakibatkan gangguan reproduksi kala besar nanti,” tutur Darm wan.

Radang ini biasanya akan sembuh dengan sendirinya. Karena tubuh mengalami regenerasi. Ia akan menciptakan zat antinya sendiri, sehingga tanpa diapa-apakan pun akan sembuh dengan sendirinya. Tapi bukan berarti kita lantas boleh ceroboh, membiarkan hal itu terus terjadi, lo.

Makanya Darmawan menganjurkan, sebaiknya bersihkan daerah vagina dengan cairan antiseptik. Tentunya yang sudah diencerkan dengan air. Cairan ini bisa membunuh kuman-kuman yang terdapat di daerah kelamin.

CARA TEPAT MEMBEDAKI

Ada ibu yang membedaki bayinya dengan menggunakan puff (spon bedak), tapi ada juga yang menggunakan tangan si ibu. Manapun yang dipilih, sama baiknya. Hanya saja, seperti dituturkan Rini Budiyanti, Senior Brand Manager Cussons, membedaki bayi dengan menggunakan tangan si ibu mempunyai nilai lebih. “Sentuhan atau usapan tangan si ibu di tubuh bayi dapat lebih mempererat hubungan batin dengan si bayi,” katanya.

Bila menggunakan puff, Rini menyarankan untuk menyediakan lebih dari satu. Yang agak tebal dan tipis. “Gunakan puff yang agak tebal untuk bagian pantat, sedangkan yang tipis untuk bagian wajah.” Sebaiknya pilih puff dari bahan katun. Jangan lupa untuk mencucinya, minimal seminggu sekali, agar terhindar dari tumbuhnya jamur.

Saat membubuhi bedak di tangan atau puff, jangan dekat-dekat dengan wajah si bayi. Sehingga serbuknya tak bertaburan dan masuk ke jalan nafas bayi.

Jangan pula membedaki bayi saat kulitnya tengah berkeringat. Karena bedak yang bercampur keringat akan menempel di permukaan kulit sehingga saluran keringat tersumbat. Akibatnya keringat tak keluar dan terjadilah keringat buntet.

Sebaiknya kulit dibasuh dulu dengan lap basah, lalu dikeringkan dengan lap bersih. Setelah itu barulah dibubuhi bedak. “Jadi fungsi bedak untuk menyerap keringat,” kata Rini.

Jika tak pakai bedak, bisa digunakan baby oil. Baby oil ini fungsinya juga untuk membuat kenyamaan. Yaitu melindungi kulit agar lembut, sehingga tak terluka saat terjadi gesekan.

About madinaid
it consultan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: