ANEKA MITOS MERAWAT BAYI

Beg tu bayi lahir, biasanya kita akan disodori beragam ajuran dan larangan dari orang tua. Betul atau tidak, sih, harus begini dan tak boleh begitu?

Kalau bayi selalu menangis atau rewel kala maghrib, berarti ia diganggu si “penunggu” rumah. Begitu, kan, kata orang tua-tua? Padahal, seperti dituturkan staf Medik Pediatri RS Pondok Indah, Dr. H. Adi Tagor, Sp.A, DPH, hal itu disebabkan temperatur alam menjelang matahari terbenam akan meningkat. Termasuk temperatur bayi. “Nah, temperatur alam yang berubah cepat ini akan membuat bayi mengalami perbedaan temperatur antara badannya dengan lingkungannya. Suhu badan masih tinggi, sementara temperatur alam di sekitarnya sudah drop.”

Nah, saat itulah bayi biasanya akan mengalami uneasy feeling atau perasaan tak nyaman, sehingga ia menangis. Sebetulnya orang dewasa pun mengalami hal itu. Baru habis mandi, misalnya, mereka akan merasa nyaman. Bedanya, bayi tak bisa mengekspresikan perasaannya. Jangan lupa juga, permukaan tubuh bayi masih kecil, sehingga kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya agak lambat.

Selain itu, “Ada yang disebut ritme sirkadian. Badan manusia mengalami bioritme yang ada hubungannya dengan waktu.” Nah, pada bayi, bioritmenya belum stabil. Karena itu, bioritme bayi yang baru lahir sampai usia 2 bulan kadang-kadang masih terbalik. Siang dianggap malam, sementara malam dianggap siang. Secara alamiah, bioritme ini akan berubah dengan sendirinya.

ADA YANG BAIK DAN ILMIAH

Menurut Adi Tagor, “Beliefs atau kepercayaan atau kebiasaan atau tradisi merupakan budaya subkultur yang turun-temurun diwariskan ke orang tua, khususnya ibu.

Di daerah atau negeri mana pun, budaya lokal dalam membesarkan bayi selalu ada.” Biasanya ditambah dengan takhayul atau mitos palsu yang bentuknya gosip di antara orang-orang tua tentang sesuatu yang tak ada dasar ilmiahnya.

Yang dimaksud ilmiah oleh Adi Tagor bukannya harus ilmu kedokteran. “Pengalaman orang tua, kan, juga ilmu. Bedanya, kalau ilmu mereka eksperiensial, sementara ilmu pengetahuan sifatnya eksperimental.” Misalnya, selama ratusan tahun diketahui bahwa bawang yang dicampur minyak bisa menurunkan panas. “Itu secara ilmiah benar, karena bawang adalah tumbuhan yang mengeluarkan minyak yang mudah menguap dan menyerap panas.”

Di negara-negara yang sudah maju seperti Amerika, kebiasaan/kepercayaan itu dituangkan dalam bentuk tertulis. Ambil contoh buku tentang perawatan bayi karangan Benjamin Spock. Itu digali dari tradisi subkultur Amerika yang diberi koreksi-koreksi ilmiah.

Jadi, tegas Adi Tagor, “Tak semua kebiasaan atau kepercayaan itu salah. Ada juga, kok, yang baik. Bahkan banyak yang cocok secara ilmiah.” Salah satunya ialah upacara tedak siti saat bayi berusia 7 bulan. “Secara ilmiah, itu pas dengan usia refleks menapak bayi.”

Yang penting, kita harus menggalinya lagi dan me-reeducate atau diberi masukan ilmiah. Yang baik dipertahankan, seperti upacara tedak siti tadi, hanya isinya dikoreksi secara ilmiah. Kecuali kalau memang membahayakan betul, ya, dilarang. “Manusia hidup dalam suatu kerangka subkultur tertentu. Nggak bisa ia hidup di luar kultur tempat ia hidup. Jadi, isinya saja yang diperbaiki. Ilmu kedokteran pun dikoreksi dari waktu ke waktu, kok,” urai dokter spesialis anak yang juga berpraktek di RS Internasional Bintaro ini.

Hasto Prianggoro. Foto : Rohedi (nakita)

Aneka Mitos

*Bayi baru lahir harus dipakaikan gurita agar perutnya tidak kembung/besar

Yang jelas, seperti diterangkan Adi Tagor, dinding perut bayi masih lemah. Volume organ-organ tubuhnya tak sesuai dengan rongga dada dan rongga perut yang ada. Karena sampai 5 bulan dalam kandungan, organ-organ ini terus tumbuh, sementara tempatnya sangat terbatas. Apalagi wanita yang pinggulnya kecil. Rongganya tak bisa berkembang, sementara organ-organnya terus berkembang. Begitupun jika bayi sudah mulai makan makanan padat. Jika bayi menggunakan gurita, maka ruangan untuk pertumbuhan organ-organ ini akan terhambat.

Jika ibu tetap ngotot memakaikan gurita, boleh saja. Asal ikatan bagian atas dilo ggarkan, sehingga jantung dan paru-paru bisa berkembang. Bila gurita digunakan agar pusar bayi enggak bodong, maka guritanya dipakaikan hanya di sekitar pusar dan ikatannya longgar. Atau gurita boleh digunakan untuk beberapa hari selama tali pusat belum puput, mengingat kemungkinan si ibu khawatir terjadi gesekan pada proses penyembuhan bekas luka tali pusat.

*Setelah tali pusat puput, pusar bayi harus ditindih dengan kepingan uang logam agar pusarnya tidak bodong

Sebetulnya tak perlu. Apalagi jika pusarnya memang tidak bodong. Kalau memang ternyata bodong, tak apa-apa diberi kepingan koin di atasnya. Asal pusar bayi harus diberi kasa steril yang diganti setiap hari dan diikat ke belakang. Pada dasarnya, ada bayi yang sejak lahir memang sudah punya bakat bodong. Lantaran “jendela” ke pusar belum menutup sempurna saat ia lahir.

*Bayi baru lahir harus dibedong agar kakinya tak pengkar (berbentuk huruf X atau O)

Sebetulnya tujuan ibu membedong bayi agar si bayi dapat tidur dengan tenang. Sampai usia 6 bulan, bayi mengalami apa yang dinamakan refleks kaget (MORO). Nah, jika bedong dipakai longgar, maka saat refleks itu terjadi, bayi akan merasa seperti ada yang memeluk sehingga ia bisa tidur lagi.

Hanya perlu diingat, bedong bisa membuat peredaran darah bayi terganggu lantaran kerja jantung memompa darah menjadi sangat berat. Akibatnya, bayi sering sakit di sekitar paru-paru atau jalan napas. Selain itu, bedong juga bisa menghambat perkembangan motorik si bayi karena tangan dan kakinya tak mendapatkan banyak kesempatan untuk bergerak. Sebaiknya bedong dilakukan hanya setelah bayi dimandikan atau kala cuaca dingin untuk menjaganya dari udara dingin. Dipakainya pun longgar.

Yang perlu diketahui, pemakaian bedong sama sekali tak ada kaitannya dengan pembentukan kaki. “Semua kaki bayi yang baru lahir memang bengkok. Soalnya, di dalam perut tak ada ruangan cukup bagi bayi untuk meluruskan kaki. Sehingga waktu lahir, kakinya pun masih bengkok,” terang Adi Tagor.

Di negara-negara yang cukup mendapatkan sinar matahari seperti Indonesia, kata Adi Tagor, tak ada kaki X atau O. Lantaran kulit mampu membuat vitamin D3 untuk pembentukan tulang dari sinar matahari. Yang ada adalah orang menderita kaki X atau O karena sakit pada kelenjar parathyroid. Kelenjar ini mengatur kadar dan penyerapan kalsium serta pembentukan tulang. Jadi, kalau pembentukan tulangnya terhambat, tentu ia akan memiliki kaki X atau O.

*Bayi tak boleh digendong di sisi kiri/kanan ibu/ayah dengan posisi kaki melingkari pinggang ayah/ibu, karena bisa membuat kakinya pengkar

Tidak benar. Tak apa-apa bayi digendong dengan cara ini asal kepala dan punggungnya disangga agar bayi tak terlempar ke belakang (Baca Agar Ia Aman Dan Nyaman Dalam Gendongan, nakita No. 09/I/5 Juni 1999, hal. 10-11, Red..)

*Pamali memandikan bayi setelah pukul 3 sore. Jadi bayi hanya dimandikan sekali sehari. Bahkan ada anggapan bayi baru boleh dimandikan setelah 40 hari

Anggapan ini tak sepenuhnya salah, bila maksudnya untuk menghindari si bayi masuk angin. Tapi jika untuk menjaga kesehatan bayi, sebaiknya dimandikan sedikitnya 2 kali sehari. Sejak bayi baru dilahirkan pun sudah boleh dimandikan, tak perlu menunggu sampai 40 hari.

Kapan waktunya yang tepat, ibu bebas menentukannya. Biasanya pada bulan-bulan pertama bayi dimandikan pukul 9.30-10.00. Selanjutnya, umumnya sekitar pukul 08.00-10.00. Sedangkan sore hari, tergantung dari suhu ruang atau sebelum kena angin sore. Yang penting diperhatikan, jangan memandikan bayi setelah ia diberi minum, karena biasanya segera sesudah diberi minum si bayi akan tidur.

Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, seperti masuk angin, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sebelum memandikan bayi:

1. Gunakan air hangat kira-kira bersuhu antara 35-38 derajat C. Cara mengukurnya, celupkan siku ibu ke dalam air. Jangan memakai telapak atau punggung tangan.

2. Jangan asal menggunakan sembarang sabun. Gunakan sabun khusus untuk bayi (dapat dipilih dalam bentuk sabun padat atau sabun cair bayi) y ng mengandung pro-vitamin B5 agar kulit bayi menjadi bersih, halus, dan sehat.

*Ibu dan bayinya tak boleh keluar rumah atau melakukan aktivitas sebelum 40 hari sejak persalinan

Sebenarnya tak ada suatu keharusan yang demikian. Tapi biasanya ibu masih memerlukan waktu untuk memulihkan kesehatannya setelah melahirkan. Sedangkan si bayi masih terlalu kecil untuk bepergian jarak jauh.

Dari segi ilmiah, menurut Adi Tagor, hal ini dibenarkan. Karena kekebalan bayi masih sangat lemah saat usianya di bawah 40 hari. Ia harus dihindari masuk ke kumpulan manusia. Sayangnya, banyak ibu yang masih mengabaikan hal ini. Misalnya, bayi sudah dibawa ke mal. “Sebetulnya tak boleh. Karena mal merupakan pusat udara yang penuh virus. Mal adalah suatu tempurung besar tertutup di mana udara didaur ulang dengan segala bakteri dan virus, yang hanya didinginkan lalu disemprotkan kembali.” Jadi, di bawah satu tahun sebaiknya jangan membawa bayi ke mal kecuali darurat dan hanya sebentar.

*Tangan dan kaki bayi harus selalu ditutup dengan sarung tangan/kaki

Sebenarnya tak masalah, asal sarung tersebut dipakaikan kala udara dingin. Atau saat bayi ditinggal untuk mencegah agar tak terluka kala ia menggapai mukanya. Di luar itu, sebaiknya bayi tak usah dipakaikan sarung karena pemakaian sarung justru akan mengurangi perkembangan indera perasa pada bayi. Penting diketahui, bayi mengenal dunia pada awalnya lewat panca inderanya. Salah satunya indera perasa/peraba.

*Kuku bayi tak boleh digunting sebelum si bayi usia 40 hari

Larangan ini mungkin lebih disebabkan kekhawatiran akan melukai kulit jari tangan/kaki si bayi saat ibu mengguntingi kuku-kukunya. Padahal, jika ibu melakukannya secara hati-hati dan dengan menggunakan gunting kuku khusus bayi, maka “kecelakaan” dapat dihindarkan.

Jadi, sebenarnya boleh, kok, menggunting kuku bayi. Asal hati-hati. Bahkan, kata Adi Tagor, kalau perlu dikikir setelah digunting. Justru kalau tidak digunting, dikhawatirkan kukunya yang panjang akan menggores muka atau bahkan mengenai kornea mata. Kalau sudah terkena kornea, tak bisa disembuhkan, lo.

*Bayi usia 3 hari sudah harus diberi nasi yang dihaluskan dengan pisang

Secara ilmiah, hal ini salah. Sebab, usus bayi pada usia ini belum punya enzim yang mampu mencerna karbohidrat dan serat-serat tumbuhan yang begitu tinggi.

About madinaid
it consultan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: